Page 29 - Edisi Januari 2026
P. 29

27
                                                                                                         27
                                                                                       BALE BETAWI       27










          buaya, ironi menjadi pelajaran. Bahwa kebenaran sering   Di  luar  sana,  cinta  sering  dirayakan  sebagai  kembang
          bersembunyi di balik prasangka.                   api. Indah, singkat, lalu padam. Betawi memilih lilin: kecil,
                                                            tapi menyala lebih lama. Roti buaya adalah lilin yang bisa
          Di  rumah-rumah  lama,  roti  buaya  tak  selalu  habis   disentuh.  Ia  menegaskan  bahwa  kesetiaan  bukanlah
          dimakan. Kadang ia dibiarkan, mengeras, lalu mengering.   kebetulan,  melainkan  keputusan  yang  diulang.  Setiap
          Dan  menjadi  saksi.  Ia  seperti  arsip.  Tak  berteriak,  tapi   pagi, setiap malam. Setiap pertengkaran yang disudahi
          bertahan. Ia menyimpan aroma gula yang memudar, dan   dengan  diam  yang  bijak.  Setiap  tawa  yang  lahir  dari
          di sanalah waktu bekerja. Pernikahan, seperti roti itu, tak   sahaja.
          selalu manis setiap hari. Ada saat pahit, ada saat hambar.
          Namun  yang  membuatnya  bermakna  adalah  kesediaan   Maka  ketika  roti  buaya  diangkat,  jangan  buru-buru
          untuk  tidak  menyerah.  “Sabar,  Mpok,”  begitu  kira-kira   memotongnya. Biarkan ia bertutur. Dengarkan sunyinya.
          bisik roti itu.                                   Di sanalah adat bekerja. Bukan sebagai beban, melainkan
                                                            sebagai  ingatan  bersama.  Begini  nih,  cara  orang  Betawi
          Roti buaya adalah benda yang menyimpan sejarah. Ia tak   ngasih  tau,  kagak  menggurui.  Bahwa  cinta,  jika  ingin
          memerlukan penjelasan panjang. Ia hadir, lalu menuntut   panjang  umur,  perlu  dibentuk.  Perlu  dikeraskan  sedikit,
          kita  untuk  menafsir.  Ia  mengajak  kita  berhenti  sejenak   agar tak mudah runtuh. Dan perlu dilunakkan di dalam,
          dari  kebiasaan  mengonsumsi  makna  secara  instan.   agar tetap manusiawi.
          Dalam  dunia  yang  ingin  cepat-cepat  selesai,  roti  buaya
          meminta kita untuk bertahan.                      Roti buaya, akhirnya, adalah doa yang bisa dilihat. Ia tak
                                                            meminta gemuruh tepuk tangan. Ia meminta kesetiaan.
                                                            Dan  dalam  dunia  yang  serba  tergesa,  itu  barangkali
                                                            adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi. Sekaligus,
                                                            paling berani.

                                                                                       Jakarta, 15 Januari 2026
                                                                 Tulisan ini didedikasikan untuk Dewi Indriati Rano
                                                                              Karno yang tengah berulang tahun.






























                                                                                                      EDISI 01 TAHUN 2026
                                                                                      Sarana Informasi Pemerintah Provinsi DKI Jakartanformasi Pemerintah Provinsi DKI Jakartanformasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
                                                                                      Sarana I
                                                                                      Sarana I
   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34