Page 28 - Edisi Januari 2026
P. 28

26   BALE BETAWI
           26
           26
                                           Roti Buaya





                                                oleh: Rano Karno
                                            Wakil Gubernur DKI Jakarta



              i  atas  meja  kayu  yang  dilapisi  taplak,  roti  buaya   bukan  panggung,  melainkan  kebun.  Yang  harus  disiram,
              terbaring. Ia terpaku, warnanya cokelat keemasan,   karena hujan tak selalu datang.
        Dmemanjang,  dengan  mata  yang  seolah  sedang
        mengintip  masa  depan.  Ia  bukan  sekadar  penganan.  Ia   Roti buaya itu keras. Bukan karena ia ingin menantang gigi,
        adalah  pernyataan.  Ia  adalah  janji  yang  dikeraskan  oleh   melainkan  karena  ia  ingin  melawan  lupa.  Kekerasannya
        gula dan ragi, dibentuk oleh tangan-tangan yang percaya   adalah disiplin. Ia mengajarkan bahwa cinta yang lunak saja
        bahwa kesetiaan bisa disuguhkan dalam rupa yang bisa   tak cukup. Ia perlu bentuk, perlu batas. Dalam dunia yang
        disentuh.  Di  Betawi,  roti  buaya  datang  bukan  untuk   gemar  mengaburkan  komitmen,  roti  buaya  justru  tegas:
        dimakan segera, melainkan untuk diresapi. Seperti kata-  satu  pasangan,  satu  niat.  Setia  bukan  soal  siapa  yang
        kata yang baik, ia meminta waktu.                  paling lantang, melainkan siapa yang tetap tinggal ketika
                                                           sorak-sorai berangsur-angsur reda.
        Buaya,  dalam  ingatan  banyak  orang,  adalah  citra  yang
        salah  paham.  Ia  disangka  licik,  padahal  ia  setia.  Ia   Ada  humor  Betawi  di  sana.  Halus,  menahan  diri.  Buaya,
        terdiam, padahal ia menunggu. Ia hidup lama, sementara   yang  dituduh  mata  keranjang,  justru  dijadikan  lambang
        kita  tergesa.  Betawi  membaca  ulang  makhluk  itu,  lalu   kesetiaan.  Ironi  itu  tajam,  seperti  senyum  yang  tahu
        memahatkannya sebagai roti: lembut di dalam, kokoh di   kapan  harus  muncul.  Seolah  Betawi  berkata:  kita  tak
        luar. Sebuah alegori yang jujur, bahwa kesetiaan bukanlah   menolak stereotip, tapi kita balikkan. Kita tak menyangkal
        pekik, melainkan ketekunan. Bahwa cinta bukan sekadar   luka sejarah, tapi kita sembuhkan dengan simbol. Di roti
        meletup, melainkan ketelatenan untuk bertahan.

        Di pernikahan Betawi, roti buaya diusung dengan khidmat.
        Ia berdiri di antara abang dan none, di antara harap dan
        cemas,  di  antara  masa  lalu  dan  masa  depan.  Seolah
        roti itu berkata, “Gua di sini biar lu berdua sebagai
        pasangan pada selalu inget.” Ingat bahwa janji
        bukanlah ornamen kata, melainkan
        ikhtiar   sehari-hari.   Ingat
        bahwa  rumah  tangga

























                         EDISI 01 TAHUN 2026
         Sarana Informasi Pemerintah Provinsi DKI Jakartanformasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
         Sarana I Sarana Informasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33