Page 49 - Edisi Januari 2026
P. 49

47
                                                                                          PELESIRAN      47


                                           Merawat Sejarah, Menjaga Makna    Minang  Melayu  di  ruang-ruang  makan
                                                                             yang  tersedia.  Minang  Eethuis  sendiri
                                           Meski  telah  melampaui  satu  abad,   buka  setiap  hari  mulai  pukul  10.00–
                                           bangunan ini masih tampak kokoh dan   21.00 WIB. Bagi pengunjung yang ingin
                                           terawat.  Didiek  menyebut,  keturunan   bersantai  lebih  lama,  tersedia  sudut
                                           Siang Le yang masih ada turut merawat   kopi  bernama  Djoempa  Coffee  Shop
                                           rumah  ini.  Sosok  yang  disapa  Oma,   yang buka hingga 01.00 WIB.
                                           keturunan  keluarga  Siang  Le,  sempat
                                           bolak-balik   Amerika   Serikat   dan   Jumlah pengunjung harian di restoran
                                           Jakarta  untuk  memastikan  bangunan   ini  bisa  mencapai  sekitar  200  orang
                                           ini tetap dijaga.                 dan meningkat hingga 400 orang pada
 Didiek Trenggono
                                                                             akhir pekan. “Jadi kalau pelanggan mau
                                           Oma pula yang kemudian menjual Villa   datang  lihat-lihat  bangunan  silakan,
          Villa  Leonie.  Nama  tersebut  dipercaya   Leonie kepada pemilik Minang Eethuis   mau makan silakan. Layanannya adalah
          merujuk pada Leonie Le, istri tuan Liem   yang  diketahui  berdarah  Minang.   kita punya menu utama yang ditawarkan
          Kha Tong, yang wafat pada 1939.  Namun,  sebelum  rumah  berpindah   dan cerita sejarah bangunan ini,” tutur
                                           tangan,  Oma  menitipkan  pesan  agar   Didiek.    sya
          Arsitektur   rumah   memperlihatkan   bangunan  bersejarah  tersebut  tetap
          perpaduan  gaya  Belanda–Tionghoa.   dirawat,  karena  bernilai  penting  bagi   Bunker Saksi
          Halaman  luas  dengan  pepohonan   keluarga besar keturunan Siang Le.
          tua  berusia  lebih  dari  50  tahun                                         Perjuangan
          memperkuat kesan teduh dan tenang.   “Yang  penting  lagi,  keluarga  Siang  Le
                                                                                   illa  Leonie  juga  menyimpan
          Sentuhan Tionghoa ju ga tampak pada   ini  merupakan  tokoh  Tionghoa  yang   Vsatu  bagian  yang  membuat
          ornamen  pendopo,  termasuk  panel   mendukung  pergerakan  kemerdekaan   pengalaman  napak  tilas  semakin
          marmer bergambar bunga dan burung,   Indonesia.  Dari  cerita  Oma,  kakeknya   nyata,   sebuah   bunker.   Didiek
          serta  lukisan  burung  Phoenix  yang   sering   membantu   pejuang   dan   menyebut,   pahlawan   nasional
                                                                                R.E.  Martadinata  dan  beberapa
          memperkaya detail visual bangunan.  masyarakat  pribumi  sekitar  sini.  Kalau   rekannya  pernah  bersembunyi  di
                                           ada  yang  perlu  bantuan  makanan   rumah  ini  selama  sekitar  10  hari
                                                                                dari  kejaran  penjajah.  Mereka
          Secara  tata  ruang,  Villa  Leonie  dibagi   misalnya, didapat dari rumah ini,” cerita   bersembunyi  di  bunker  yang  kini
          menjadi  lima  bagian:  teras/pendopo,   Didiek.                      menjadi  salah  satu  bagian  paling
          ruang  depan,  ruang  tengah,  ruang                                  menarik dari Villa Leonie.
          makan,  dan  ruang  belakang.  Susunan   Didiek menambahkan siapa pun bebas   Bunker  berukuran  4×5  meter
          ruang  ini  menghubungkan  lima  kamar   berkunjung  untuk  berkeliling  rumah   ini   dibangun   sebagai   upaya
          di sisi kiri yang saling terhubung melalui   dan melihat tiap sudut bangunan tanpa   perlindungan.  Meski  sudah  sangat
                                                                                tua,  bunker  masih  tampak  kokoh
          pintu  bagian  dalam,  serta  dua  kamar   dikenai  biaya.  Setelah  itu,  pengunjung   dengan  pintu  baja  tebal  yang
                                                                                                    sebagai
          di  sisi  kanan  yang  dahulu  berfungsi   dipersilakan  menikmati  santapan  ala   menegaskan   fungsinya   Menurut
                                                                                ruang
                                                                                       perlindungan.
          sebagai kamar utama dan ruang kerja.                                  cerita  yang  berkembang,  bunker
                                                                                ini  pernah menjadi tempat  para
          Kini, kamar-kamar tersebut difungsikan                                pejuang  bersembunyi  dari  tentara
                                                                                Jepang, bahkan mengumandangkan
          sebagai  ruang  makan.  Setiap  ruangan                               Indonesia Raya.
          diberi  nama  khas  Minang,  seperti
          Ruang  Sago  dan  Ruang  Singkarak,                                   “Nah bunker ini yang menjadi salah
                                                                                satu  daya  tarik  wisata  sejarah  di
          serta   beberapa   ruang   lainnya,                                   Villa  Leonie,  Minang  Eethuis  ini,”
          dengan  kapasitas  hingga  60  orang.                                 ujar Didiek.
          Perpaduan  suasana  rumah  tua  dan                                   Menariknya,   pengunjung   dapat
          identitas Minang inilah yang membuat                                  masuk  melihat  bunker  tersebut.
          pengalaman  bersantap  terasa  lebih                                  Minang Eethuis juga mempersilakan
                                                                                pelanggan  yang  ingin  makan  di
          personal.  Apalagi,  sebagian  besar                                  bunker,  meski  dengan  kondisi  yang
          menu  dan  racikannya  dibawa  dari                                   sangat  terbatas  dan  tanpa  meja.
          kampung halaman, sehingga rasa yang                                   “Kalau  mereka  mau  sensasi  makan
                                                                                di  bunker,  silakan  saja,”  pungkas
          hadir tetap otentik.                                                  Didiek.  sya


                                                                                                      EDISI 01
                                                                                                      EDISI 01 TAHUN 2026TAHUN 2026
                                                                                      Sarana I Sarana Informasi Pemerintah Provinsi DKI Jakartanformasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
   44   45   46   47   48   49   50   51   52